times

Suatu Hari di Tahun 1995

Aku ingin sekali tahu bagaimana kabarmu sekarang. Aku tidak akan lupa dengan wajahmu yang penuh dengan keteduhan itu, juga dengan kacamata yang selalu kau kenakan setiap hari. Apakah masa yang lewat merupakan masa yang sulit untukmu? Bagaimana rasanya tinggal disana?

Aku mau bercerita, sekarang aku bukan lagi anak kecil berseragam yang menunggu jemputan datang setiap pagi seperti dulu. Sekarang, aku pergi ke sebuah tempat yang begitu banyak diimpikan orang, yang kata orang tempat itu adalah pintu menuju luasnya dunia. Aku juga tidak lagi belajar bagaimana menjumlahkan dua apel dengan tiga apel, atau bagaimana memisahkan sebuah kata menjadi beberapa suku kata yang pendek, karena sekarang aku masuk ke kelas berpendingin ruangan yang sangat nyaman, dimana aku duduk dan mendengarkan seseorang dengan pengeras suara berbicara di depan.

Ada yang terlupa, aku tidak lagi tinggal di rumah yang dulu. Ya, bukan lagi di rumah tempat kita menghabiskan masa yang begitu singkat namun selalu kurindukan itu. Seandainya kau tahu betapa beratnya meninggalkan rumah itu.

Kemarin temanku bercerita tentang sosok seperti kau, sehingga aku teringat bahwa ternyata sudah tiga belas tahun aku tak melihatmu. Bahwa aku tak pernah lagi datang mengganggu ke kamarmu dan bertanya: ”Eyang lagi ngapain?”. Aku masih ingat dengan payung berwarna ungu yang pernah kau belikan untukku, dan aku menyesal untuk mengingat bahwa aku tak menyimpannya.

Aku akan selalu ingat hari Kamis itu, hari terakhir dimana aku masih melihatmu tertawa terbahak-bahak menonton tingkah polah Kadir dan Doyok di televisi. Dan esok paginya, ketika aku sudah mengenakan seragam berwarna putih-hijauku dan bersiap pergi ke sekolah, ibuku memanggilku dan berkata kepadaku untuk tetap tinggal di rumah. Ketika kutanya kenapa, ia bilang kau sudah pergi. Pergi untuk seterusnya. Aku tidak menangis, karena aku bingung apa artinya itu. Aku cuma tahu bahwa kau tidak bergerak, dan dimasukkan ke sebuah lubang yang besar, lalu ada orang-orang tak ku kenal yang entah mengapa menutup lubang itu dengan rapat sehingga aku tidak bisa bertemu lagi denganmu.

Aku menangis sejadi-jadinya sekarang, karena tiba-tiba teringat betapa singkatnya waktu yang kita lalui bersama, dan betapa aku ingin merasakan saat-saat itu lagi. Aku ingin bercerita banyak tentang hidupku, dan aku ingin melihat wajahmu lagi, kali ini dari dekat. Aku juga ingin bilang bahwa aku sayang padamu. Sayaaaaaaaangg sekali…

Eyang, semoga Eyang selalu mendapatkan tempat terbaik disana.

 

 

 

 

* tulisan ini terinspirasi oleh tulisan seorang teman. thanks ya, Chy, for reminding me that we always have this kind of wonderful guy in our whole life.

Advertisements