life

What Do They Have in Common?

Waffle;

Pan-toasted bread;

Human characters and personalities.

 

Several things in this world are best served plain 🙂

Advertisements

Longchamp

A couple of days ago, my boss who just got back from Germany gave me a simple-yet-classy Longchamp bag which she bought during her stay there.

I was really thrilled as I realized that I couldn’t afford to buy the original bag here which costs me a fortune. People say that it costs around 1 million rupiah in Indonesia’s store.

I then took a look at the bag and stare at its details, trying to find out and compare with all the imitated versions which are easy to find in every side of ITC’s corner : the strap, the zipper, and the Longchamp brand located at the back of the bag.

At the first glance, the bag looks like an ordinary bag and it doesn’t even worth 1 million rupiah to me. But if I look closer, I find what makes it worthy: the strap is made of strong leather, the zipper is not the one who is easily broken, and the Longchamp brand is beautifully stitched at the back of the bag.

One thing that I realize, those details are not easy to spot- they are kinda overlooked and I gotta take closer to check.

Maybe the same thing applies to people.

Maybe ‘good’ people are not easy to spot. Maybe what makes them good and worthy is those little details which are not quite easy to find.

Maybe what makes them good is as simple as them giving their favourite chocolate to their friends, even though they know that the chocolate tempted them a lot.

Or maybe what makes them good is when they are willing to help their co-workers check their work and give total hearty advice for them to improve.

Or it can be those qualities where they still treat other people well, although they don’t receive the same treatment from those exact same people.

Maybe we all have to take a closer look to tell why a bag is worth a one-month-salary-for-some-people, but in the end there will always be those small, good quality details which finally explain why.

Sering Berpikir

Saya sering berpikir, ketika sedang mencuci tangan di toilet sebuah gedung perkantoran tinggi di daerah Sudirman dan bertemu dengan seorang gadis, mungkin usianya hanya beda 4-5 tahun dengan saya.

Seragamnya berwarna merah, membawa ember kecil warna biru berisi perlengkapan lengkap. Ada lap, sabun, sikat, dan banyak lagi.

Jika bertemu di toilet saya sering menyunggingkan senyum kepadanya “Mbak..”, ujar saya, dan dia pun membalas dengan ramah.

Tapi di lain waktu pun pernah tidak. Dia diam menghadap kaca besar di depan wastafel dan membersihkannya dengan tekun sekali. Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Lalu di dalam hati saya bertanya “namanya siapa ya? dia punya berapa adik di rumah? setiap bulan dapat uang berapa?”

 

Lalu lain lagi ketika melihat segerombolan gadis muda yang sedang mengikuti wawancara kerja di sebuah perusahaan tepat di depan kantor tempat saya bekerja.

Dari kaca transparan itu, setiap hari saya melihat orang-orang hilir mudik berganti, menunggu di kursi-kursi empuk. Saya pun pernah berpikir, mengapa begitu banyak pelamar kerja di tempat itu.

Suatu waktu, saya berpapasan di lorong dengan seorang gadis yang menanyakan dimana letak toilet wanita.

Rambutnya panjang, badannya tidak terlalu tinggi, dia memakai baju hijau sedikit transparan.

Kebetulan saya menuju ke arah yang sama sehingga kami berjalan beriringan.

 

Dia berdandan di depan kaca, memoleskan bedak ke wajahnya. Lalu dia bertanya “di bagian apa, Mbak?” Sepertinya dia mengira bahwa saya bekerja di tempat yang sama dengan tempatnya melamar kerja.

Saya yang sedang melamun pun sedikit kaget dan menjawab “oh, saya di Quadrant, di depannya PT Gagan.”

Dia          : Masih kuliah?

Saya        : (sambil tertawa) Udah lulus Mbak, dari tahun 2011.

Dia          : S1 ya, Mbak? (seolah-olah sudah tahu jawaban dari pertanyaannya)

Saya        : Iya.

                 Mau interview ya di Gagan? Untuk bagian apa?

Dia          : SPG Mbak, lagi coba-coba aja. Aku juga belum pernah sih..

Saya        : Oh… Lagi kuliah juga?

Dia          : Aku gak kuliah, Mbak. Habis lulus SMA langsung kerja.

                 Pengen sih nyobain kuliah..

Saya        : Iya Mbak, cobain kuliah aja, mumpung masih sempet.

Dia          : Iya (sambil sedikit tersenyum).

 

Saya pun tersenyum kembali kepadanya, padahal kata-kata ini sudah meluncur di kepala.

Perempuan. SMA saja. SPG.

Hidup.

 

 

Mengapa sulit sekali untuk melihat seseorang tanpa rasa?

Mengapa sulit sekali untuk hanya melihat, tanpa bertanya-tanya dalam kepala?

 

#2

Cause I personally think that what happen in the classroom are not always about the attendance list or the scores that you get for the final exam. They go far beyond anything we can imagine.

Sometimes, it’s about how you enjoy the learning process, how your heart beats when you raise your hand and ask questions, or simply about admiring certain people who give you any kind of feedback.

Ah, learning is fun 🙂

Suatu Hari di Tahun 1995

Aku ingin sekali tahu bagaimana kabarmu sekarang. Aku tidak akan lupa dengan wajahmu yang penuh dengan keteduhan itu, juga dengan kacamata yang selalu kau kenakan setiap hari. Apakah masa yang lewat merupakan masa yang sulit untukmu? Bagaimana rasanya tinggal disana?

Aku mau bercerita, sekarang aku bukan lagi anak kecil berseragam yang menunggu jemputan datang setiap pagi seperti dulu. Sekarang, aku pergi ke sebuah tempat yang begitu banyak diimpikan orang, yang kata orang tempat itu adalah pintu menuju luasnya dunia. Aku juga tidak lagi belajar bagaimana menjumlahkan dua apel dengan tiga apel, atau bagaimana memisahkan sebuah kata menjadi beberapa suku kata yang pendek, karena sekarang aku masuk ke kelas berpendingin ruangan yang sangat nyaman, dimana aku duduk dan mendengarkan seseorang dengan pengeras suara berbicara di depan.

Ada yang terlupa, aku tidak lagi tinggal di rumah yang dulu. Ya, bukan lagi di rumah tempat kita menghabiskan masa yang begitu singkat namun selalu kurindukan itu. Seandainya kau tahu betapa beratnya meninggalkan rumah itu.

Kemarin temanku bercerita tentang sosok seperti kau, sehingga aku teringat bahwa ternyata sudah tiga belas tahun aku tak melihatmu. Bahwa aku tak pernah lagi datang mengganggu ke kamarmu dan bertanya: ”Eyang lagi ngapain?”. Aku masih ingat dengan payung berwarna ungu yang pernah kau belikan untukku, dan aku menyesal untuk mengingat bahwa aku tak menyimpannya.

Aku akan selalu ingat hari Kamis itu, hari terakhir dimana aku masih melihatmu tertawa terbahak-bahak menonton tingkah polah Kadir dan Doyok di televisi. Dan esok paginya, ketika aku sudah mengenakan seragam berwarna putih-hijauku dan bersiap pergi ke sekolah, ibuku memanggilku dan berkata kepadaku untuk tetap tinggal di rumah. Ketika kutanya kenapa, ia bilang kau sudah pergi. Pergi untuk seterusnya. Aku tidak menangis, karena aku bingung apa artinya itu. Aku cuma tahu bahwa kau tidak bergerak, dan dimasukkan ke sebuah lubang yang besar, lalu ada orang-orang tak ku kenal yang entah mengapa menutup lubang itu dengan rapat sehingga aku tidak bisa bertemu lagi denganmu.

Aku menangis sejadi-jadinya sekarang, karena tiba-tiba teringat betapa singkatnya waktu yang kita lalui bersama, dan betapa aku ingin merasakan saat-saat itu lagi. Aku ingin bercerita banyak tentang hidupku, dan aku ingin melihat wajahmu lagi, kali ini dari dekat. Aku juga ingin bilang bahwa aku sayang padamu. Sayaaaaaaaangg sekali…

Eyang, semoga Eyang selalu mendapatkan tempat terbaik disana.

 

 

 

 

* tulisan ini terinspirasi oleh tulisan seorang teman. thanks ya, Chy, for reminding me that we always have this kind of wonderful guy in our whole life.

Apa namanya?

Apa namanya? Aku pun tak pernah mengerti. Sebentuk rasa jenuh dan bosan, karena harus melakukan sebuah hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan.

Apa namanya? Ketika aku harus menangis. Menangisi manusia lain yang bahkan belum lama mengetahui namaku. Tapi ternyata air mata ini tetap turun dari singgasananya.

Lalu, ini apa namanya? Ketika aku harus bertarung dengan Sang Hidup, dan mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit di dada ketika bertanya kepadanya mengapa ia menghampiriku dengan wajahnya yang buruk.

Kalau yang ini, apa? Apa namanya jika hatiku pun enggan tersenyum pada sesosok manusia yang seharusnya kuanggap sebagai seorang teman?

Rasa ketika aku harus merengut, dan mengerutkan alis karena ramainya suara klakson dan kemacetan di jalan yang seolah tak pernah tahu bahwa aku hanya ingin cepat sampai ke tujuanku. Itu apa namanya?

Aku juga tak tahu apa namanya, ketika hatiku mencelos melihat seorang bapak tua tanpa alas kaki mendorong gerobak di waktu matahari bersinar sangat terik. Sedangkan aku? Kepanasan sedikit saja sudah mengeluh panjang sekali. Hai diri, betapa kau harus bersyukur lagi dan lagi!

Dan, rasa ketika aku terduduk tak berdaya meminta berbagai macam hal di depan Penguasa Kehidupan padahal mengingat-Nya pun kadang aku malas. Ya, rasa itu apa namanya?

Aku tidak tahu, kawan.
Tapi aku belajar banyak dari yang tak bernama.

life, and always life

Pernah nggak lo merasa sangat lelah dan muak dengan sesuatu? Sesuatu itu bisa jadi orang, benda, lagu, atau apapun. All you wanna do is just go and go, and you just never want to see that person, thing, song, or anything. Gw sedang mengalaminya. Lebih tepatnya lagi: sudah lama mengalami tapi yang ini udah sampe pada tahap lelah selelah-lelahnya gw. Buat gw, keadaan ini udah lama banget hinggap di hidup gw. Tujuh tahun udah sangat cukup buat gw berpikir kenapa sampe sekarang gw masih terus berkutat dengan keadaan yang painful itu.

Di satu sisi, gw selalu mencoba bersyukur masih bisa menikmati banyak hal yang membuat gw berpikir: “Oh, I should be grateful, because of this, and that, and this, and that”. Tapi di sisi lain, ketika gw berusaha sangat kuat untuk strict pada prinsip gw di atas, seperti ada bagian lain yang berteriak karena kapasitas gw sebagai manusia biasa sudah mulai terusik. Gw mulai berpikir sangat egois dan bertanya pada Tuhan –yang selalu gw percaya mengatur setiap detik kehidupan gw- kenapa sampai hari ini masalah itu tidak kunjung pergi? Apakah semua usaha, pengharapan, dan doa gw nggak pernah sampe ke telinga Tuhan? Pertanyaan bodoh. Karena gw amat sangat yakin Tuhan Maha Tahu. Tapi, itulah yang bener-bener pengen gw tanya. Kenapa dan kenapa? Tujuh tahun buat orang lain bisa berarti banyak, dari seorang anak tk yang belom bisa baca menjadi seorang gadis kecil umur 12 tahun yang udah ngerti pacaran, HP, and so on. Tujuh tahun bisa juga berarti transformasi dari seseorang jadi seseorang yang lain. Tapi, seven years for me means nothing. Ya, di tujuh tahun itu gw belajar sangat banyak, gw tertawa, gw menangis, bersabar, dan menahan sangat banyak, tapi semua yang gw lakukan tidak mengubah apapun.

Dan kalo ada yang bilang Tuhan nggak adil, gw jadi mulai merasa pernyataan itu ada benernya. Gw emang nggak tau rahasia apa yang ada di balik keadaan gw yang tentunya berbeda sama keadaan orang lain, mengingat gw juga nggak punya kemampuan untuk menebak apa yang bakal terjadi nanti. Tapi untuk saat ini, bisa dibilang gw merasakan itu.

God, I’m tired.. And I’m fed up.