human

Apa namanya?

Apa namanya? Aku pun tak pernah mengerti. Sebentuk rasa jenuh dan bosan, karena harus melakukan sebuah hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan.

Apa namanya? Ketika aku harus menangis. Menangisi manusia lain yang bahkan belum lama mengetahui namaku. Tapi ternyata air mata ini tetap turun dari singgasananya.

Lalu, ini apa namanya? Ketika aku harus bertarung dengan Sang Hidup, dan mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit di dada ketika bertanya kepadanya mengapa ia menghampiriku dengan wajahnya yang buruk.

Kalau yang ini, apa? Apa namanya jika hatiku pun enggan tersenyum pada sesosok manusia yang seharusnya kuanggap sebagai seorang teman?

Rasa ketika aku harus merengut, dan mengerutkan alis karena ramainya suara klakson dan kemacetan di jalan yang seolah tak pernah tahu bahwa aku hanya ingin cepat sampai ke tujuanku. Itu apa namanya?

Aku juga tak tahu apa namanya, ketika hatiku mencelos melihat seorang bapak tua tanpa alas kaki mendorong gerobak di waktu matahari bersinar sangat terik. Sedangkan aku? Kepanasan sedikit saja sudah mengeluh panjang sekali. Hai diri, betapa kau harus bersyukur lagi dan lagi!

Dan, rasa ketika aku terduduk tak berdaya meminta berbagai macam hal di depan Penguasa Kehidupan padahal mengingat-Nya pun kadang aku malas. Ya, rasa itu apa namanya?

Aku tidak tahu, kawan.
Tapi aku belajar banyak dari yang tak bernama.

Advertisements