GUTS! PATIENCE

Dari Helen Keller ke Pompa Air

Sudah tiga minggu ini saya tinggal sendiri di rumah dan mengurus semuanya sendiri, mulai dari mengatur uang, mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah, membeli makanan, dan lain sebagainya. Semuanya terasa lancar-lancar saja, sampai pada akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa POMPA AIR SAYA BOCOR. Bocornya pompa air ini dapat dijelaskan menjadi: keluarnya air dalam volume yang sangat banyak setiap pompa air dinyalakan, dan volume air yang banyak tersebut menyebabkan air menggenang di tempat pompa air tersebut berada, alias di dapur. Jadi, singkatnya begini:

Supaya gak banjir = gak nyalain pompa air

Gak nyalain pompa air à gak bisa ngisi bak di kamar mandi

Nah, mungkin rasanya baik-baik saja kalo air di bak mandi saya penuh. Masalahnya, air saya tinggal seperempat bak mandi. Itu berarti, saya harus ekstra irit menggunakan air. Saya pun memutuskan untuk mandi seperlunya saja, hanya membasuh anggota badan yang wajib untuk berwudhu (seperti tayamum), melakukan berbagai cara pengiritan lainnya, daaaan tentu saja membetulkan si pompa air ini. Akhirnya, berkat saran dari ayah, saya meminta tolong kepada seorang tetangga, yaitu Bapak S untuk melihat keadaan pompa ini dan membetulkannya. Ternyata, hal ini tidak berhasil, karena beliau tidak memiliki alat yang mampu membetulkan pompa ini. Beliau pun berbaik hati memanggilkan Bapak D, yang dikenal ahli dalam hal per-pompa-an ini.

Bapak D pun datang ke rumah, mengganti pipa yang bocor, dan voila! Pipa air pun kembali seperti semula! Setelah saya coba menyalakan air, lalu… “lho lho, kok masih bocor ya, Pak?” Ternyata, ada dua bagian yang harus diperbaiki, yaitu pipa dan tempat penampungan kecil berbentuk lonjong berwarna kuning yang saya tidak tahu apa namanya. Karena sudah malam dan Bapak D tidak memiliki sambungan untuk tempat penampungan tersebut, beliau berjanji akan mencarikan di toko dan kembali keesokan harinya. Entah kenapa, malam itu saya memutuskan untuk tetap mengisi air di bak karena takut kekurangan air untuk besok pagi, dan saya harus bergulat dengan air yang menggenang, berbecek-becek di dapur, dan mencari ember besar untuk menampung air yang keluar, membuang air tersebut jika ember sudah penuh, dan melakukan segala kerepotan lainnya. Saya pun merasa kesal karena saya harus repot-repot mengurusi pompa air ini sendirian, hampir terpeleset karena licin, dan dibuat susah oleh ini semua! Rasanya seperti “Kenapa harus gue sih yang repot-repot gini? Haduuuhh.. Masya Allah..

Keesokan harinya, saya sampai di rumah jam 7 malam, dan siap menunggu kedatangan Bapak D. Namun, sudah jam 8 malam yang ditunggu-tunggu tidak datang juga. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke rumah Bapak S untuk minta diantarkan ke rumah Bapak D. Saking masih kesalnya, saya sampai salah memakai baju, bagian dalam justru saya pakai di luar. Saya pun menuju ke rumah Bapak D, yang letaknya agak masuk ke perkampungan, dan bukan berada di kompleks yang sama dengan saya. Selama 7 tahun saya tinggal disini, saya tidak pernah sekalipun melihat tempat ini. Saya melihat Bapak D sedang berkumpul dengan anak-analnya di depan rumah. Ternyata mereka tinggal berdekatan dengan saya, hanya bedanya mereka tidak tinggal di blok-blok seperti saya yang tinggal di kompleks. Sejenak saya tersadar “Kemana aja gue selama ini? Kok sampe gak tau ada rumah disini?

Singkatnya, Bapak D berhasil membetulkan pompa air dengan sempurna. Saya pun melihat prosesnya, mulai dari menggergaji, mengencangkan dengan kunci inggris yang saya baru tahu bentuknya sama sekali tidak seperti kunci yang selama ini kita kenal.

Akhirnya, setelah Bapak D pulang, saya membuka Twitter dan melihat quote dari Helen Keller, bunyinya begini:

“We could never learn to be brave and patient if there were only joy in the world”

Sejenak saya seperti tersadar, sepertinya benar juga ya. Mungkin kalo pompa air saya baik-baik saja, atau saya tidak tinggal sendiri seperti sekarang, saya jadi tidak tahu bagaimana rasanya bersabar karena harus irit air, bersusah-susah menghadapi pompa yang bocor, becek-becekan di dapur malam-malam, atau mungkin saya gak akan berani pergi ke rumah tetangga malem-malem hanya untuk minta tolong, dan mungkin saya juga tidak akan tahu bahwa di dekat tempat tinggal saya ada rumah-rumah yang masuk ke perkampungan, dan mereka juga bagian dari lingkungan saya.

Saya senang karena saya menjadi lebih mengerti bahwa saya tidak mungkin terus-terusan menghadapi apa yang dinamakan kemudahan, kesenangan, dan kelancaran, Pasti ada saatnya dimana saya harus menghadapi kesulitan, kerepotan, atau hal yang berjalan tidak semulus yang kita inginkan.

Tetapi saya yakin, dalam kesulitan, kerepotan, dan ketidakmulusan itu, saya belajar dua hal: menjadi sabar dan berani.