Stories

Putih biru, putih abu-abu, jaket kuning, dan tak terhingga.

Gue emang cuma bisa ngaku dosa sama yang satu ini. Da*n.

 

 

 

 

Oh, and although sometimes I still don’t understand  how you fall head over heels with that man, as long as you are happy, you know..

Do whatever you want to do, Destriana.

Terima kasih karena selalu ada sejak kita berseragam putih biru 🙂

Advertisements

The so-called ‘experience’

              Last May, I got a chance to work as a two-week research assistant in an experimental research titled ‘An Evaluation of the Impact of Multicultural Storybooks on Indonesian Children’. This research aims to examine children’s respect for and intention to interact with children from different ethnic groups (Papua, Chinese, and Javanese) portrayed in story books. I, along with 4 other RAs got a big opportunity to work with some famous professors from Canada and US who spent their life doing research about prejudice and children, and also with two other college students pursuing their PhD. I got interviewed on Friday, came the next day to do a full-day training about the measures and tests, and did the data-taking for 7 days on preschool children in a local community preschool in South Jakarta. Since that was my first time working with foreigners, I was quite surprised with how they worked – forcing myself to (unconsciously) compare the way I do with my Indonesian colleagues. They didn’t even touch their cell phones during the training, didn’t provide snacks to the RAs (a very uncommon thing compared to those trainings I’ve done before, which is also very helpful cause it helped me to focus on the whole training instead of looking at those tempting snacks).

         The research consisted of three parts; the pre-test, the intervention (books reading), and the post-test. All the RAs had to do all parts, and frankly speaking, they were exhausting yet fun! I had the balls to know some long, long, written and computerized measures to examine prejudice in children. I learned how to pre-test the kids and read storybooks to them with all those facial expressions and tones for so many many times; all while recognizing the importance of experimental design and the kids showed biases. I also learned that sadly, many Indonesian kids tend to put negative traits (lazy, don’t like to play toys, etc) on Papuans people. That’s certainly not a new issue in Indonesia since parents and media show more appreciation to people with white skin, long straight hair, and people who possess many properties. That also makes me think that a good parenting plays a very important role in little kids, so kids can have respect to anyone they meet. I also learned that discipline and hard work are really the key to everything. I had to wake up at 3.45 in the morning, grab some breakfast, catch the earliest train at 5.15, and waited at the hotel lobby in Thamrin at 6.30 to go to the preschool together. To my surprise, I made myself being punctual cause I didn’t have the researchers’ phone numbers and that only means one thing: there is no excuse for coming late. Sticking to schedule and working persistently without doing many additional extras (snacks, cell phones) lead to a very effective training and data-taking. Those small details sort of enlightened me why there is this kind of feeling when we think that Western people look more ‘successful’ than Indonesian at the first glance.

And, the research tells me that I do love working with kids, undoubtedly.

So, thank you for coming again, experience! 🙂

Counting Blessings: Can You? #1

Saya tidak pernah naik KRL Jabodetabek selama saya hidup. Naik KRL itu kan menyeramkan, kotor, banyak copetnya. Orang-orang di dalam kereta kan serem-serem semua, liar-liar begitu kan. Naik kereta itu tidak enak, penuh sesak, dan harus mencium keringat orang-orang. Hiiii.. Lalu, kalau salah naik bagaimana? Kalau saya salah turun stasiun bagaimana? Terus bedanya kereta yang ada di jalur 1, jalur 2, jalur 3 itu apa? Ah, bingung. Saya tidak pernah naik KRL karena memang tidak pernah dapat kesempatan untuk menaikinya. Dulu, untuk bepergian, saya dan keluarga biasa menggunakan mobil pribadi. Tidak pernah ada alternatif naik KRL dalam kamus saya. Simply because I’m not used to it.  Jika saya harus bepergian ke suatu tempat yang belum saya ketahui sendiri, saya biasa naik angkutan umum, bus, atau metromini. Saya baru pernah naik KRL Jabodetabek ketika duduk di bangku kuliah. Bukan sebagai sarana transportasi dari rumah ke kampus, mengingat rumah saya cukup dekat dengan kampus. KRL pertama yang saya naiki adalah KRL Ekonomi AC ke Bogor ketika saya melakukan perjalanan naik gunung dan harus turun di Stasiun Bogor. That was the first and I was so excited. Karena rasanya seperti ‘wah, gue naik kereta. Keren ya. Terlihat tough sekali, mandiri. Hihii.’

Saat itu kami berangkat beramai-ramai dan ada satu orang teman yang membelikan tiket untuk satu rombongan, jadi saya hanya tinggal mengikuti yang lain saja. Kalau yang lain ke kanan, ya saya ke kanan. Kan saya tidak tahu jalan. Hal-hal macam itu terus berlangsung beberapa kali, sehingga saya hanya benar-benar tahu rasanya naik kereta, menjejakkan kaki dan duduk di dalamnya. Nah, saya tidak pernah merasakan bagaimana mengantri di depan loket, membeli tiket dan menyebutkan jenis KRL serta stasiun yang saya tuju, jalan menuju jalur yang ditentukan, dan menunggu kereta. Saya hanya ikut-ikutan saja. Mungkin semua proses tersebut terasa biasa saja untuk teman-teman yang biasa naik kereta, tapi bagi saya itu semua bikin deg-degan. Karena itu semua tentang keberanian mencoba sesuatu yang baru bagi saya. That’s why I take that as a big thing. Saya bahkan baru tahu bahwa di Stasiun UI jalurnya dibagi menjadi dua, satu jalur ke arah Jakarta Kota dan satu jalur lagi ke arah Bogor. Jadi, jika kita ingin ke Bogor kita harus menunggu di jalur ini, dan jika ingin mengarah ke Jakarta Kota, kita harus menunggu di jalur satunya lagi. Ya, saya baru tahu lho itu.

Nah akhirnya, singkat cerita, suatu saat saya diharuskan untuk pergi ke suatu tempat yang lebih praktis dijangkau dengan kereta, saat itu masih beramai-ramai dengan teman-teman, namun saya diam-diam belajar bagaimana triknya dan mulai terbiasa. Saya senang sekali. Saya sering menghafal nama stasiun-stasiun dan urutannya dan mencatatnya di HP saya, jadi jika suatu saat saya harus pergi sendiri saya sudah punya catatan. I kinda like it 🙂

Saya juga senang mengamati orang-orang di dalam kereta. Kalau naik kereta ekonomi, saya sering mengamati orang-orang yang bepergian untuk mencari nafkah dengan alat transportasi ini. Orang-orang yang mencari nafkah di tempat yang jauh dari rumah, dan memilih naik kereta ekonomi (mungkin) karena harga tiketnya yang sangat murah. Saya juga senang membeli jepitan, ikat rambut, dan peniti yang dijajakan di dalam kereta, harganya lebih murah dari yang dijual di dekat kampus. Entah kenapa ada kepuasan tersendiri setelah membeli sesuatu di kereta. Oh ya, akhirnya setelah sekian lama selalu berperan sebagai buntut alias hanya bisa ikut-ikut teman ketika naik kereta, saya mendapat kesempatan untuk naik kereta SENDIRI! Ya, saya sedang berada di Bogor bersama seorang teman. Awalnya ia bilang ia akan kembali ke Depok, sehingga saya saat itu tenang-tenang saja ‘asik, ada yang nemenin ke Depok. Takut deh  pulang naik kereta sendiri.’ Akan tetapi, rencana berubah. Teman saya tidak jadi ke Depok dan saya harus pulang naik kereta sendiri dari Stasiun Bogor.  Saya deg-degan takut nyasar tapi sekaligus bangga karena akan naik kereta sendiri (baca: membeli tiket dan menunggu kereta). Akhirnya, hari itu, tanggal 22 Maret 2011 adalah tanggal bersejarah dalam hidup saya: Saya naik kereta sendiri! Saya membeli tiket kereta ekonomi AC, bertanya kepada petugas di jalur berapa keretanya berhenti, dan pak Petugas bilang ‘kalau nggak di jalur 3, ya jalur 4, Mbak.’ Oke, saya masuk ke dalam stasiun dan berpikir ‘yang mana nih jalur 3 sama 4? Ngitung jalur 1-nya mulai dari mana nih? Banyak banget jalurnya. Nah, akhirnya sayup-sayup terdengar pemberitahuan bahwa kereta yang saya naiki berhenti di jalur 4. Saya pun bertanya kepada seorang petugas dimana letak jalur 4, masuk ke dalam kereta, mendapat tempat duduk, menunggu sebentar, dan berangkat!

Di perjalanan saya sudah menghafalkan stasiun-stasiun yang akan dilewati sampai saya turun di Stasiun UI. Bogor-Cilebut-Bojong-Citayam-Depok-Depok Baru-Pocin-UI. Terus saya hafalkan berkali-kali. Saya tidak berani tidur, karena takut salah turunnya nanti. Dan akhirnya, setelah perjalanan selama kurang lebih 30-35 menit, saya sampai di Stasiun UI dengan selamat! YEEEESSS! Saya super duper senang!

Naik kereta sendiri untuk saya bukan hanya tentang perasaan senang karena akhirnya pernah mempunyai pengalaman naik kereta yang bisa diceritakan ke teman-teman–memiliki keberanian untuk naik kereta sendiri adalah tentang bagaimana saya mau mencoba sesuatu yang saya takuti pada awalnya, melawan ketakutan dan kekhawatiran sendiri akan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi (salah naik kereta, salah turun stasiun, salah arah, dan lain sebagainya), serta memiliki keberanian untuk bertanya jika saya tidak tahu.

Jadi, Counting Blessings versi saya kali ini adalah: saya berhasil naik kereta sendiri. Bagaimana dengan kamu? 🙂

Ayah Saya Ini dan Itu

Ayah saya galak, dulu ketika saya masih duduk di bangku SD, ayah selalu bilang bahwa target nilai itu harus sembilan atau sepuluh. Tidak boleh tidak. Tidak ada di dalam kamus Ayah yang mengatakan bahwa angka delapan itu bagus. Dan saya selalu mendorong diri saya untuk mendapatkan nilai minimal sembilan. Bukan, bukan untuk menyenangkan hati ayah. Saya hanya merasa tidak ada yang salah dengan standarnya, sehingga lambat laun saya menjadi terbiasa dengan didikannya. Sampai sekarang.

Ayah saya selalu memeriksa hasil belajar saya setiap malam. Sepulang dari kantor, ayah saya selalu memberikan latihan soal matematika untuk saya. Latihan itu tidak akan selesai jika saya belum mendapatkan hasil sempurna—menjawab semua soal dengan benar. Saya ingat sekali ayah selalu menuliskan latihan soal tersebut di dalam sebuah block note yang ia dapat dari kantornya. Tulisan tangannya tegas, menekan sampai terjiplak di kertas bagian belakang.  Dan hasilnya? Saya resmi mendapatkan angka seratus pada pelajaran matematika dalam Ujian Nasional Sekolah Dasar.

Ayah saya, sampai detik ini adalah orang pertama yang selalu mengecek kelengkapan alat tulis saya menjelang ujian. Ujian apapun, mulai dari Pra EHB dan EHB ketika duduk di SD, ulangan umum dan try out di bangku SMP dan SMA, sampai ke SPMB. Ayah saya tegas dalam bidang pendidikan.

Ayah saya adalah orang yang selalu saya hubungi jika saya sendirian di rumah dan merasa lapar. ‘Papi dimana? Beliin makanan ya, Dek Sekar laper.’ Itu adalah kata-kata yang sering saya tuliskan dalam pesan singkat untuknya. Dan ayah selalu pulang dengan makanan yang saya sukai, meskipun saya tidak memintanya. Ayah saya juga adalah orang pertama yang khawatir dengan kesehatan saya ketika saya putus cinta. Saat itu ia selalu pulang ke rumah dengan membawa makanan cepat saji yang menjadi kesukaan saya.

Seiring dengan berjalannya waktu, ia semakin jarang marah. Ia bilang dulu ia galak agar saya punya fondasi yang kokoh, sehingga ketika saya tumbuh dewasa ia cukup melihat saya dari jauh dan tidak perlu menggandeng saya terus-terusan ketika berjalan, karena ia tahu saya sudah menjejak dengan kuat ketika melangkah. Saya akan selalu menjadi gadis kecil ayah dengan cara kami masing-masing. Saya suka saat-saat ayah memperlakukan saya seperti ketika saya masih kecil, melakukan hal-hal yang bisa membuat saya bahagia, apapun itu. Di dalam diri saya mengalir nilai-nilai yang ayah tanamkan, dan saya bangga dengan itu.

Menggambarkan sosok ayah bukan pekerjaan yang mudah, karena terlalu banyak hal tentangnya yang ingin saya tuliskan disini. Ia adalah sosok yang galak namun lembut, santai namun tegas, kuat namun terkadang terlihat lemah. Saya ingin ayah ada di samping saya ketika saya memakai toga di bulan September nanti, saya ingin mencium tangannya ketika ia harus melepaskan saya untuk seorang pria di luar sana, dan saya selalu ingin menjadi gadis kecil itu. Gadis kecil Ayah.

Untuk Raden Djoko Suntoro Dirdjoatmodjo, di atas semua yang telah terjadi, tersenyumlah dan berbahagialah.

Aku menyayangimu.

Alert! L.O.V.E!

Hi, everyone!

Meet Nurul Trie Yulianti, 21 years old, single. An outgoing girl with a big passion on traditional dance, outdoor activities, and many more. She has a nice smile, a good sense of humor, not to mention a very good sense on delicious foods. Being single for 21 years, Nurul has been through a lot. Anyhow, she always spreads a feeling of happiness everyday. She is definitely the kind of person you’d like to meet to boost up your mood!

Born in Jakarta, a soon-to-be 21 years old Dhiza Ariffa is a huge fan of Coldplay who has the real talent of drawing and playing Tap Tap in her iPod Touch. Dhiza has a lot of friends, since she finds herself comfortably mingle with new people around her. She has the guts to join an internship program to a rural area in Tanjung Dato’, Kalimantan, a month ago. But above all, she is a great, talented, and undoubtedly a loving person.

They both texted me from Merauke and Pontianak a while before catching up a plane to Jakarta and told me that they had a great time there. But for me, the best thing about welcoming them home is knowing that they come up with their own, fresh, and brand new love story. And I’m soooo delighted to hear that!

Can’t wait to hear more and more from them! 🙂

*I wrote this on the last July welcoming these two good friends*

The Elusive One by Tessa Wijaya

“Much of what happiness is all about is about figuring out what is meaningful in life for you and then achieving that. It is also about the ability to look inward and to reflect and appreciate what you already have. You cannot fix something when you do not know why it is broken, and you cannot make something without realizing what you already have.”

“At the end of the day if you can sit down, reflect and be content with what you have and what you’ve achieved, happiness is in your grasp.”

(Tessa Wijaya, from The Jakarta Post Weekender, October 2009)