Private Ferris Wheel

#2

Cause I personally think that what happen in the classroom are not always about the attendance list or the scores that you get for the final exam. They go far beyond anything we can imagine.

Sometimes, it’s about how you enjoy the learning process, how your heart beats when you raise your hand and ask questions, or simply about admiring certain people who give you any kind of feedback.

Ah, learning is fun 🙂

Apa namanya?

Apa namanya? Aku pun tak pernah mengerti. Sebentuk rasa jenuh dan bosan, karena harus melakukan sebuah hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan.

Apa namanya? Ketika aku harus menangis. Menangisi manusia lain yang bahkan belum lama mengetahui namaku. Tapi ternyata air mata ini tetap turun dari singgasananya.

Lalu, ini apa namanya? Ketika aku harus bertarung dengan Sang Hidup, dan mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit di dada ketika bertanya kepadanya mengapa ia menghampiriku dengan wajahnya yang buruk.

Kalau yang ini, apa? Apa namanya jika hatiku pun enggan tersenyum pada sesosok manusia yang seharusnya kuanggap sebagai seorang teman?

Rasa ketika aku harus merengut, dan mengerutkan alis karena ramainya suara klakson dan kemacetan di jalan yang seolah tak pernah tahu bahwa aku hanya ingin cepat sampai ke tujuanku. Itu apa namanya?

Aku juga tak tahu apa namanya, ketika hatiku mencelos melihat seorang bapak tua tanpa alas kaki mendorong gerobak di waktu matahari bersinar sangat terik. Sedangkan aku? Kepanasan sedikit saja sudah mengeluh panjang sekali. Hai diri, betapa kau harus bersyukur lagi dan lagi!

Dan, rasa ketika aku terduduk tak berdaya meminta berbagai macam hal di depan Penguasa Kehidupan padahal mengingat-Nya pun kadang aku malas. Ya, rasa itu apa namanya?

Aku tidak tahu, kawan.
Tapi aku belajar banyak dari yang tak bernama.

aku dan sore

soreku hari ini terasa lain

karena di sore ini aku berjalan dan melihat dari dekat;

bukan hanya melihat dari dalam kendaraan seorang teman yang biasa kutumpangi setiap hari

 

aku melihat lalu lalang kendaraan dan mendengar deru mesin yang tak hentinya berbunyi

hasil karya manusia yang makin lama makin akrab saja di hidupku,

lalu aku melihat segerombolan orang berkumpul

di depan sebuah gerobak yang menjual minuman manis yang menggoda selera

”ramai sekali”, pikirku dalam hati.

 

aku berjalan lagi dan memperlambat langkah untuk menikmati soreku

dan di atasku, terbentang awan sore biru-putih

luas..

bergerumul indah seperti saling mengejar dan bergerak

dan aku pun terheran-heran

bagaimana bisa aku melewatkan pemandangan seindah ini setiap harinya?

 

aku pun terus berjalan

dan melihat dua bocah laki-laki sedang bertengkar dari kejauhan

dengan bahasa yang tak pernah terlintas di pikiranku bisa keluar dari mulut mungil mereka

aku pun hanya tertawa dalam hati,

ternyata roda waktu memang sudah merubah semuanya

 

aku melihat tanda penunjuk jalan yang sudah usang;

dua orang muda sedang bercengkerama di bawah sebuah bangunan tak-tahu-apa namanya;

seorang ayah sedang menyiram jalan aspal dengan air;

hmm, aku menghirupnya dalam-dalam. aku suka bau ini. bau aspal yang tersirami air.

dari kejauhan terlihat seorang anak dengan sepeda roda tiganya;

semua kulihat dan kunikmati, di sore ini

 

lalu kakiku menghentikan langkahnya

karena aku sudah sampai di tempat dimana aku kembali setiap harinya

 

aku  membersihkan diri

menunaikan kewajiban dan kebutuhan menyapa Tuhan

yang ternyata kulakukan di akhir waktu

dan ketika kutengok keluar,

soreku yang indah telah pergi

dan aku pun siap menyambut malam.

life, and always life

Pernah nggak lo merasa sangat lelah dan muak dengan sesuatu? Sesuatu itu bisa jadi orang, benda, lagu, atau apapun. All you wanna do is just go and go, and you just never want to see that person, thing, song, or anything. Gw sedang mengalaminya. Lebih tepatnya lagi: sudah lama mengalami tapi yang ini udah sampe pada tahap lelah selelah-lelahnya gw. Buat gw, keadaan ini udah lama banget hinggap di hidup gw. Tujuh tahun udah sangat cukup buat gw berpikir kenapa sampe sekarang gw masih terus berkutat dengan keadaan yang painful itu.

Di satu sisi, gw selalu mencoba bersyukur masih bisa menikmati banyak hal yang membuat gw berpikir: “Oh, I should be grateful, because of this, and that, and this, and that”. Tapi di sisi lain, ketika gw berusaha sangat kuat untuk strict pada prinsip gw di atas, seperti ada bagian lain yang berteriak karena kapasitas gw sebagai manusia biasa sudah mulai terusik. Gw mulai berpikir sangat egois dan bertanya pada Tuhan –yang selalu gw percaya mengatur setiap detik kehidupan gw- kenapa sampai hari ini masalah itu tidak kunjung pergi? Apakah semua usaha, pengharapan, dan doa gw nggak pernah sampe ke telinga Tuhan? Pertanyaan bodoh. Karena gw amat sangat yakin Tuhan Maha Tahu. Tapi, itulah yang bener-bener pengen gw tanya. Kenapa dan kenapa? Tujuh tahun buat orang lain bisa berarti banyak, dari seorang anak tk yang belom bisa baca menjadi seorang gadis kecil umur 12 tahun yang udah ngerti pacaran, HP, and so on. Tujuh tahun bisa juga berarti transformasi dari seseorang jadi seseorang yang lain. Tapi, seven years for me means nothing. Ya, di tujuh tahun itu gw belajar sangat banyak, gw tertawa, gw menangis, bersabar, dan menahan sangat banyak, tapi semua yang gw lakukan tidak mengubah apapun.

Dan kalo ada yang bilang Tuhan nggak adil, gw jadi mulai merasa pernyataan itu ada benernya. Gw emang nggak tau rahasia apa yang ada di balik keadaan gw yang tentunya berbeda sama keadaan orang lain, mengingat gw juga nggak punya kemampuan untuk menebak apa yang bakal terjadi nanti. Tapi untuk saat ini, bisa dibilang gw merasakan itu.

God, I’m tired.. And I’m fed up.