Month: February 2013

Sering Berpikir

Saya sering berpikir, ketika sedang mencuci tangan di toilet sebuah gedung perkantoran tinggi di daerah Sudirman dan bertemu dengan seorang gadis, mungkin usianya hanya beda 4-5 tahun dengan saya.

Seragamnya berwarna merah, membawa ember kecil warna biru berisi perlengkapan lengkap. Ada lap, sabun, sikat, dan banyak lagi.

Jika bertemu di toilet saya sering menyunggingkan senyum kepadanya “Mbak..”, ujar saya, dan dia pun membalas dengan ramah.

Tapi di lain waktu pun pernah tidak. Dia diam menghadap kaca besar di depan wastafel dan membersihkannya dengan tekun sekali. Tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Lalu di dalam hati saya bertanya “namanya siapa ya? dia punya berapa adik di rumah? setiap bulan dapat uang berapa?”

 

Lalu lain lagi ketika melihat segerombolan gadis muda yang sedang mengikuti wawancara kerja di sebuah perusahaan tepat di depan kantor tempat saya bekerja.

Dari kaca transparan itu, setiap hari saya melihat orang-orang hilir mudik berganti, menunggu di kursi-kursi empuk. Saya pun pernah berpikir, mengapa begitu banyak pelamar kerja di tempat itu.

Suatu waktu, saya berpapasan di lorong dengan seorang gadis yang menanyakan dimana letak toilet wanita.

Rambutnya panjang, badannya tidak terlalu tinggi, dia memakai baju hijau sedikit transparan.

Kebetulan saya menuju ke arah yang sama sehingga kami berjalan beriringan.

 

Dia berdandan di depan kaca, memoleskan bedak ke wajahnya. Lalu dia bertanya “di bagian apa, Mbak?” Sepertinya dia mengira bahwa saya bekerja di tempat yang sama dengan tempatnya melamar kerja.

Saya yang sedang melamun pun sedikit kaget dan menjawab “oh, saya di Quadrant, di depannya PT Gagan.”

Dia          : Masih kuliah?

Saya        : (sambil tertawa) Udah lulus Mbak, dari tahun 2011.

Dia          : S1 ya, Mbak? (seolah-olah sudah tahu jawaban dari pertanyaannya)

Saya        : Iya.

                 Mau interview ya di Gagan? Untuk bagian apa?

Dia          : SPG Mbak, lagi coba-coba aja. Aku juga belum pernah sih..

Saya        : Oh… Lagi kuliah juga?

Dia          : Aku gak kuliah, Mbak. Habis lulus SMA langsung kerja.

                 Pengen sih nyobain kuliah..

Saya        : Iya Mbak, cobain kuliah aja, mumpung masih sempet.

Dia          : Iya (sambil sedikit tersenyum).

 

Saya pun tersenyum kembali kepadanya, padahal kata-kata ini sudah meluncur di kepala.

Perempuan. SMA saja. SPG.

Hidup.

 

 

Mengapa sulit sekali untuk melihat seseorang tanpa rasa?

Mengapa sulit sekali untuk hanya melihat, tanpa bertanya-tanya dalam kepala?

 

Advertisements

Bersyukur Itu; Cerita Dari Dalam Kereta

Bersyukur itu,

Bisa bangun pagi meskipun sambil mengantuk harus mengejar kereta untuk pergi ke tempat kerja.

Tapi lalu, keretanya datang dan kamu masih bisa berdiri di bawah kipas angin yang memberikan sedikit udara sejuk di tengah himpitan orang.

 

Bersyukur itu,

Kamu berdiri dan kesempitan di dalam kereta dengan udara yang tipis.

Tapi orang yang berdiri di depanmu masih mau membantumu meletakkan tasmu di atas karena tanganmu terlalu pendek untuk menggapainya.

 

Bersyukur itu,

Beban bawaanmu terasa ringan saat ini, meskipun rasanya kesal melihat banyak orang duduk dengan kursi lipatnya di gerbong yang sempit ini.

Tapi lalu, kamu masih bisa melupakannya dan berkonsentrasi menghitung delapan stasiun sampai stasiun tujuanmu.

 

Bersyukur itu,

Kamu akhirnya sampai di stasiun tujuanmu, meskipun harus berkeringat menunggu angkutan umum yang sedikit  jumlahnya.

Tapi lalu, kamu bisa duduk di dalamnya dan melalui jalanan Jakarta yang padat; bukannya ada di pinggir jalan Sudirman dengan tangan melambaikan angka satu menunggu mobil-mobil berisi satu atau dua orang saja, yang memberikanmu uang sepuluh ribu ketika kamu turun dari mobilnya.

 

Bersyukur itu,

Kamu sudah kelelahan sampai di meja kerjamu, tapi harus mengerjakan setumpuk laporan yang kamu tunda-tunda sejak minggu lalu.

Tapi lalu, kamu masih bisa menyelesaikannya dan mendapat pujian dari atasanmu, meskipun sering kali kamu tidak sabar menunggu jam pulang.

 

Bersyukur itu,

Kamu sudah ada di dalam kereta yang sesak lagi menuju stasiun awal tempat kamu berangkat tadi pagi.

Tapi lalu, kamu toh ada di dalamnya, terbawa laju kereta yang cepat melawan lampu-lampu malam hari; dan bukan duduk di dalam jembatan penyeberangan sambil membawa seorang anak kecil yang meminta-minta, seperti yang kamu lihat dalam perjalanan sore tadi.

 

Bersyukur itu,

Kamu bisa sampai di rumah mungkin empat jam sebelum hari berganti, dan sudah luar biasa lelah.

Tapi toh, masih ada seorang ayah yang menyambut, ibu yang menyiapkan makanan, kakak laki-laki yang juga kelelahan mencari uang, serta adik perempuan yang sedang berjuang dengan tugas akhirnya agar bisa jadi Sarjana Kedokteran.

Dan itu berarti ada orang-orang yang sama, yang menunggu wajahmu muncul di pintu rumah setiap harinya.

 

Bersyukur itu,

Kamu lelah mengejar kereta, lelah bekerja, lelah dengan hati yang tidak jelas apa maunya.

Tapi toh, di akhir hari kamu masih menemukan dirimu memuji nama Tuhanmu atas segala rencana-Nya.

 

Itu bersyukur menurut saya. Bagaimana dengan kamu?

Selamat bersyukur.