Month: October 2008

Suatu Hari di Tahun 1995

Aku ingin sekali tahu bagaimana kabarmu sekarang. Aku tidak akan lupa dengan wajahmu yang penuh dengan keteduhan itu, juga dengan kacamata yang selalu kau kenakan setiap hari. Apakah masa yang lewat merupakan masa yang sulit untukmu? Bagaimana rasanya tinggal disana?

Aku mau bercerita, sekarang aku bukan lagi anak kecil berseragam yang menunggu jemputan datang setiap pagi seperti dulu. Sekarang, aku pergi ke sebuah tempat yang begitu banyak diimpikan orang, yang kata orang tempat itu adalah pintu menuju luasnya dunia. Aku juga tidak lagi belajar bagaimana menjumlahkan dua apel dengan tiga apel, atau bagaimana memisahkan sebuah kata menjadi beberapa suku kata yang pendek, karena sekarang aku masuk ke kelas berpendingin ruangan yang sangat nyaman, dimana aku duduk dan mendengarkan seseorang dengan pengeras suara berbicara di depan.

Ada yang terlupa, aku tidak lagi tinggal di rumah yang dulu. Ya, bukan lagi di rumah tempat kita menghabiskan masa yang begitu singkat namun selalu kurindukan itu. Seandainya kau tahu betapa beratnya meninggalkan rumah itu.

Kemarin temanku bercerita tentang sosok seperti kau, sehingga aku teringat bahwa ternyata sudah tiga belas tahun aku tak melihatmu. Bahwa aku tak pernah lagi datang mengganggu ke kamarmu dan bertanya: ”Eyang lagi ngapain?”. Aku masih ingat dengan payung berwarna ungu yang pernah kau belikan untukku, dan aku menyesal untuk mengingat bahwa aku tak menyimpannya.

Aku akan selalu ingat hari Kamis itu, hari terakhir dimana aku masih melihatmu tertawa terbahak-bahak menonton tingkah polah Kadir dan Doyok di televisi. Dan esok paginya, ketika aku sudah mengenakan seragam berwarna putih-hijauku dan bersiap pergi ke sekolah, ibuku memanggilku dan berkata kepadaku untuk tetap tinggal di rumah. Ketika kutanya kenapa, ia bilang kau sudah pergi. Pergi untuk seterusnya. Aku tidak menangis, karena aku bingung apa artinya itu. Aku cuma tahu bahwa kau tidak bergerak, dan dimasukkan ke sebuah lubang yang besar, lalu ada orang-orang tak ku kenal yang entah mengapa menutup lubang itu dengan rapat sehingga aku tidak bisa bertemu lagi denganmu.

Aku menangis sejadi-jadinya sekarang, karena tiba-tiba teringat betapa singkatnya waktu yang kita lalui bersama, dan betapa aku ingin merasakan saat-saat itu lagi. Aku ingin bercerita banyak tentang hidupku, dan aku ingin melihat wajahmu lagi, kali ini dari dekat. Aku juga ingin bilang bahwa aku sayang padamu. Sayaaaaaaaangg sekali…

Eyang, semoga Eyang selalu mendapatkan tempat terbaik disana.

 

 

 

 

* tulisan ini terinspirasi oleh tulisan seorang teman. thanks ya, Chy, for reminding me that we always have this kind of wonderful guy in our whole life.

Apa namanya?

Apa namanya? Aku pun tak pernah mengerti. Sebentuk rasa jenuh dan bosan, karena harus melakukan sebuah hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan.

Apa namanya? Ketika aku harus menangis. Menangisi manusia lain yang bahkan belum lama mengetahui namaku. Tapi ternyata air mata ini tetap turun dari singgasananya.

Lalu, ini apa namanya? Ketika aku harus bertarung dengan Sang Hidup, dan mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit di dada ketika bertanya kepadanya mengapa ia menghampiriku dengan wajahnya yang buruk.

Kalau yang ini, apa? Apa namanya jika hatiku pun enggan tersenyum pada sesosok manusia yang seharusnya kuanggap sebagai seorang teman?

Rasa ketika aku harus merengut, dan mengerutkan alis karena ramainya suara klakson dan kemacetan di jalan yang seolah tak pernah tahu bahwa aku hanya ingin cepat sampai ke tujuanku. Itu apa namanya?

Aku juga tak tahu apa namanya, ketika hatiku mencelos melihat seorang bapak tua tanpa alas kaki mendorong gerobak di waktu matahari bersinar sangat terik. Sedangkan aku? Kepanasan sedikit saja sudah mengeluh panjang sekali. Hai diri, betapa kau harus bersyukur lagi dan lagi!

Dan, rasa ketika aku terduduk tak berdaya meminta berbagai macam hal di depan Penguasa Kehidupan padahal mengingat-Nya pun kadang aku malas. Ya, rasa itu apa namanya?

Aku tidak tahu, kawan.
Tapi aku belajar banyak dari yang tak bernama.

aku dan sore

soreku hari ini terasa lain

karena di sore ini aku berjalan dan melihat dari dekat;

bukan hanya melihat dari dalam kendaraan seorang teman yang biasa kutumpangi setiap hari

 

aku melihat lalu lalang kendaraan dan mendengar deru mesin yang tak hentinya berbunyi

hasil karya manusia yang makin lama makin akrab saja di hidupku,

lalu aku melihat segerombolan orang berkumpul

di depan sebuah gerobak yang menjual minuman manis yang menggoda selera

”ramai sekali”, pikirku dalam hati.

 

aku berjalan lagi dan memperlambat langkah untuk menikmati soreku

dan di atasku, terbentang awan sore biru-putih

luas..

bergerumul indah seperti saling mengejar dan bergerak

dan aku pun terheran-heran

bagaimana bisa aku melewatkan pemandangan seindah ini setiap harinya?

 

aku pun terus berjalan

dan melihat dua bocah laki-laki sedang bertengkar dari kejauhan

dengan bahasa yang tak pernah terlintas di pikiranku bisa keluar dari mulut mungil mereka

aku pun hanya tertawa dalam hati,

ternyata roda waktu memang sudah merubah semuanya

 

aku melihat tanda penunjuk jalan yang sudah usang;

dua orang muda sedang bercengkerama di bawah sebuah bangunan tak-tahu-apa namanya;

seorang ayah sedang menyiram jalan aspal dengan air;

hmm, aku menghirupnya dalam-dalam. aku suka bau ini. bau aspal yang tersirami air.

dari kejauhan terlihat seorang anak dengan sepeda roda tiganya;

semua kulihat dan kunikmati, di sore ini

 

lalu kakiku menghentikan langkahnya

karena aku sudah sampai di tempat dimana aku kembali setiap harinya

 

aku  membersihkan diri

menunaikan kewajiban dan kebutuhan menyapa Tuhan

yang ternyata kulakukan di akhir waktu

dan ketika kutengok keluar,

soreku yang indah telah pergi

dan aku pun siap menyambut malam.

Another Side of Social Psychology Class

The Social Psychology Class that I attend every Thursday on 01.30 pm-04.00 pm is quite interesting for me. But one thing I don’t really know is that I always feel so sleepy during the class. I often blame the time class starts; because I believe that it requires me to sit and listen to the lecturer or to do anything that enhance my knowledge. So, my Thursday was just like many other Thursdays in this term: entering the class on 01.30 pm, looking for some places to sit (I love the middle part), waiting for the lecturer, listening while another side of me were screaming to sleep, question-answer session, and class over. But last Thursday was a little bit different. One senior lecturer came and he taught us about….. about what? Oh, I forgot what it was. Ok, he taught us something in a non-stop style-lecturing-method. Yes, he talked and talked during the class. He talked a lot, so the students did the contrary: we listened. Since I didn’t pay much attention to him except his very good-looking face in his nearly 60’s, I couldn’t tell you much what the lecture about. All I did was staring at him for some seconds, nodding for something I agreed, and writing meaningless words and sentences on my textbook, hoping to keep connected to the class.

Finally, he ended his lecture, sat on his chair, and another young lecturer who assist switched to be in charge. And she started her lecture about Interpersonal Relationship. I directly lifted my head, pointed my eyes to the power point presentation and imagined that ‘love’ will be the most commonly used word in the class. And hell yes, I was right!

I hope the next class would be that fun! Hahaha..

Adikku Sudah Besar Rupanya

Hari Senin kemarin, gw berencana untuk pergi ke warnet untuk ngebuka email yang berisi kiriman jurnal buat tugas Psikologi Pendidikan yang dikirim sama temen gw. Mengetahui rencana itu, adek gw yang juga kebetulan mau ngirim email menitipkan atau lebih tepatnya menyuruh gw untuk ngirimin email dia itu. Gw tidak keberatan dan langsung mengiyakan saja.

Gw : “Mana filenya yang mau dikirim? Masukin ke HP Mbak Sekar aja yaa..”

Adek gw: “Iya, ini di-bluetooth aja ya”

Gw : “Oke”

Nah, pas gw ngeliat HP gw untuk memastikan apakah file-nya udah masuk (dan ternyata emang udah), gw secara sengaja membuka file adek gw itu. Penasaran. Hehehe..

Ternyata itu file yang dikirim buat gurunya, mungkin tugas karangan Bahasa Inggris, judul karangannya What I Plan To Do After Finishing National Exam. Dan tanpa izinnya, gw publish karangan dia disini (maap ya, Dek..)

What I Plan To Do After Finishing National Exam

Hello, my name is Arum. I am a high school student now. I am studying at 61 high school in the 12th grade in science major.

The National Exam will be held on February and I promise to do the best preparation for it.

My first dream after finishing National Exam is to continue my education in University of Indonesia, Depok. I’ll take a BA degree program in Architecture. I hope I’ll get it. I have a quite big interest in architecture. Not only on the beauty of a building design but also about the scientific reason behind it. My interest is also inspired by an article that I read a few years ago. The article told the reader about an architect from Netherlands in the colonizer period. His design is fully made by humanity values and he always supports the indigene. He designed the high market stall in Pasar Johar, Semarang. The reason why he chose to build it was to make the workers (who were dominated by women) no longer squat when lifting up the customer’s goods. I always want to be like that too.

I always love art. Maybe I am not an artist but I am a lover of art. I always enjoy seeing a beautiful design of a building. That’s why I feel challenged to make those admirable buildings.

I’ll be a great architect in the future! I will travel around the world because of it. I will set my foot in front of Eiffel Tower in Paris or see the great buildings in Rome, Germany, and all over the world. I’ll build a music concert building, a star observer building and other amazing places. I will, I promise. : )

If I already be a successful person in the future, the first thing that I want to do is to make my parents happy. It’s my first priority and there’s no excuse about it. I want to send my parents to Mecca and Medina to fulfill the “Hajj” obligation. I want to fulfill all their needs so they don’t need to go for work again and enjoy their old days.

To reach all my dreams, I will work and study as hard as I can and always ask for Allah’s direction in my pray. I will make my parents and my family feel proud because of me. Amin.

Rr. Arum Ramadhyan Suryandari (34) – XII IPA 4

Setelah gw baca karangannya dia karena sangat tertarik dengan judulnya, gw mencoba membantu mengecek apakah ada grammar yang salah (paling nggak ada sedikit niat baik dari gw setelah tanpa izin ngebuka file-nya dia itu, hehehe..)

Gw : “Dek, ini kayanya ada yang salah-salah dikit deh..”

Adek gw: *agak kaget karena karangannya gw baca* “Eh, emm, yaudah Mbak Sekar betul-betulin aja yang salah, pokoknya maksudnya gitu deh..”

Gw : “Oke oke, ini harusnya gini ya, bla bla blaa..”

Sambil ngecek-ngecekin lagi, pikiran gw melayang ke belasan tahun yang lalu. Adek gw yang umurnya cuma berjarak tiga tahun sama gw itu, yang manjanya luar biasa, yang sering berantem sama gw, yang meskipun pas udah kelas 2 SMP itu tetep nggak berani pulang sekolah naik angkot sendiri, yang nggak pernah bisa jauh sama nyokap gw, yang pinter gambar, yang paling egois di rumah karena anak paling kecil, yang sering dapet rangking 1 selama sekolah, yang kadang gw rasa paling bright sendiri di antara gw dan kakak gw itu, yang gw dan kakak gw pindahin dari boks bayi ke tempat tidur pas dia masih bayi (I was just three years old at that time) itu..

SEKARANG..

Udah bisa bikin karangan Bahasa Inggris sendiri

Bisa jadi ketua Paduan Suara di sekolahnya (I didn’t even knew she loves singing that much)

Udah bisa mikir jauh ke depan kalo dia sebenernya pengen banget jadi arsitek, dan

Sangat membanggakan gw dengan menjadi peserta salah satu olimpiade sains! Hahaha..

but one thing that makes me realize that she’s no longer my spoiled-little sister anymore is these sentences on her English paper:

I’ll be a great architect in the future! I will travel around the world because of it. I will set my foot in front of Eiffel Tower in Paris or see the great buildings in Rome, Germany, and all over the world. I’ll build a music concert building, a star observer building and other amazing places. I will, I promise. : )

If I already be a successful person in the future, the first thing that I want to do is to make my parents happy. It’s my first priority and there’s no excuse about it. I want to send my parents to Mecca and Medina to fulfill the “Hajj” obligation. I want to fulfill all their needs so they don’t need to go for work again and enjoy their old days.

To reach all my dreams, I will work and study as hard as I can and always ask for Allah’s direction in my pray. I will make my parents and my family feel proud because of me. Amin.

Gw sadar betul bahwa usianya selalu bertambah setiap tahun, bahwa sudah hampir tiga tahun dia mengenakan seragam putih abu-abunya, dan bahwa tahun depan dia akan mendapatkan KTP pertamanya, tapi gw nggak pernah menyangka bahwa semuanya terjadi begitu cepat. Secepat ini.

Haaahh, adikku itu sudah besar rupanya..

Praying the very very best for your life, Sist (: