Month: September 2008

tentang angkatan

Ini semua dimulai ketika gw membaca salah satu blog temen gw. Di blog itu, dia menyebut-nyebut tentang angkatan. And I thought I had the same idea to write. Tentang angkatan gw di Psikologi UI. Ya, dua ribu tujuh.

Mendapatkan angka tujuh setelah deretan angka 200 merupakan suatu kesenangan buat gw (nggak bisa disebut kesenangan juga sih, I just love the number, don’t know why), mungkin karena itu angka ganjil, but never mind.. Setelah lulus SMA dan masuk kuliah, gw semakin familiar dengan yang namanya angkatan, karena di kampus angkatan itu penting, paling tidak buat menunjukkan identitas seseorang, misalnya ada percakapan kaya gini:

A: eh, liat si X ga?

B: X yang mana? 2006 apa 2007?

A: oh, 2006..

B: tadi ke kantin tuh..

Yah, buat gw angkatan bisa berfungsi buat hal-hal seperti itu, ditambah lagi kampus Psikologi yang memang identik dengan kekeluargaan dan kebersamaan membuat orang-orang yang berada di satu angkatan yang sama punya sense of belonging yang tinggi. Oke, inilah gw setaun yang lalu. (baca: baru masuk kuliah dan lagi bangga-bangganya sama angkatan gw si 2007 itu). Semua tugas yang diberikan Panitia emang menuntut gw, yang masih Maba waktu itu, untuk berinteraksi dengan temen-temen 2007 yang lain. Mulai dari tugas-tugas kelompok, bikin ini dan itu, dan lain sebagainya. Semua menuntut kekompakan dengan orang-orang yang masih baru banget gw kenal.

Setelah melalui beberapa tahap, tibalah puncak acara. Di hari itu ada sebuah kondisi (I prefer to use this term), namanya Class Solidation (CS). Kenapa namanya solidation? Gw emang nggak pernah tanya ke siapa-siapa, tapi mungkin gw cukup percaya diri untuk bilang bahwa kata ‘solidation’ memang merujuk pada suatu tujuan yang juga merupakan arti harfiah dari kata itu sendiri: PEMADATAN. Sifat benda padat yang punya partikel-partikel erat dapat menggambarkan harapan Panitia PMB waktu itu, yaitu supaya angkatan 2007 semuanya kompak, nggak ‘pecah’, dan lain-lain yang menurut gw emang mulia banget.

Setelah berhari-hari rangkaian acara dilakukan, gw yang waktu itu jadi Maba denger desas-desus kalo CS-nya 2007 gagal. Hah, gagal? Maksudnya apa juga gw nggak ngerti. Tapi, setelah ngobrol-ngobrol sama senior di angkatan atas, hampir semuanya bilang kurang lebih gini:

Si kakak: “kalo pas gw dulu gini gini gini, bla bla bla bla.. (‘gini gini dan blablabla’ yang mereka maksud adalah mereka melakukan hal yang menurut mereka emang harus dilakukan saat itu. Singkatnya buat gw, KEREN). tapi kok angkatan lo nggak sih?”

Gw: “oh gitu ya, gw juga nggak ngerti kenapa kaya gitu, hehehe..” *sambil tertawa dan berpikir dalem-dalem*

Selain itu, emang timbul gosip yang namanya angkatan ganjil dan angkatan genap. Katanya angkatan ganjil itu nggak kompak, dan angkatan genap sebaliknya. Gw pun mencoba melihat ke angkatan ganjil terdekat yang gw tau yaitu 2005. Nggak ngerti juga 2005 itu gimana-gimana, tapi gw emang sadar kalo angkatan gw si 2007 itu emang gimanaaaaa gitu. Gw juga susah nulisnya, karena waktu itu jujur aja gw emang nggak terlalu ‘sayang’ sama angkatan gw. Gw cenderung cuek sama acara-acara angkatan waktu itu, karena gw berpikir toh yang lain juga santai-santai aja, kenapa gw harus repot?

Fortunately, I changed the way I think. Kalo semua orang mikir sama kaya gw, kapan 2007 bisa maju?

Setelah setaun kuliah, menurut gw angkatan gw sama-sama aja, nggak ada (atau belom ada?) perubahan. Semua semakin jelas pas acara buka puasa angkatan kemaren. Dikit banget yang dateng! Gw sangat berpegang dalam masalah kuantitas buat issue yang satu ini. Dari total 200an orang, yang dateng kira-kira cuma 30an. Alesannya karena besoknya ada kuis Psibang dan gosipnya kuis Psisos. Tapi pi pi pi, emang cuma mereka aja yang ada kuis? Hey, gw juga! Yang lainnya juga ada kuis sama persis kaya kalian yang nggak dateng. Tapi kenapa masih ada yang bisa dateng juga? Gw juga nggak tau mereka punya urusan apalagi, tapi buat gw hari itu sungguh mengecewakan.

Where are you, guys? Together we can make it better!

a letter to mom

September 14th 2008

Thank you…

For every free heartbeat, breath, and everything you shared to me at the time I stayed through your life

For accompanying me in every kindergarten-drawing-contest I used to join

For being the first person to know when I got my full-of-panic first period

For making me realize that spending this life with you is the best gift I’ve ever got

For all those struggling times we’ve faced together. I never knew you could be that wonderful!

For all painful sacrifices you felt during this 19 years –not to mention those you got these days-

For every single thing you did and gave to make me feel that there are so many things out there I should be grateful to

For giving me timeless life lessons. Oh, how I learn through you a lot.

I want you to know…

That your name is the first name I remember everytime I meet God in my prayer

That seeing your smile means a lot to me as I grow up

That I cry everytime you cry

That I work and study hard to make you believe that your sacrifices turn into something meaningful

That I always wanted to buy you a gift everytime the calendar says it’s July 21st

That I feel like being tortured when I knew that it’s hard to say how much I love you more than anyone

That I want you to be with me in my whole life

And I’m terribly sorry

For making you so sad and cry…

I’m so proud to have you here in my life, Mom.. Thank you seems the only word to say. And I’m trying hard to see your smile. Always, I promise.

Lots of  loves, hopes, and pray

life, and always life

Pernah nggak lo merasa sangat lelah dan muak dengan sesuatu? Sesuatu itu bisa jadi orang, benda, lagu, atau apapun. All you wanna do is just go and go, and you just never want to see that person, thing, song, or anything. Gw sedang mengalaminya. Lebih tepatnya lagi: sudah lama mengalami tapi yang ini udah sampe pada tahap lelah selelah-lelahnya gw. Buat gw, keadaan ini udah lama banget hinggap di hidup gw. Tujuh tahun udah sangat cukup buat gw berpikir kenapa sampe sekarang gw masih terus berkutat dengan keadaan yang painful itu.

Di satu sisi, gw selalu mencoba bersyukur masih bisa menikmati banyak hal yang membuat gw berpikir: “Oh, I should be grateful, because of this, and that, and this, and that”. Tapi di sisi lain, ketika gw berusaha sangat kuat untuk strict pada prinsip gw di atas, seperti ada bagian lain yang berteriak karena kapasitas gw sebagai manusia biasa sudah mulai terusik. Gw mulai berpikir sangat egois dan bertanya pada Tuhan –yang selalu gw percaya mengatur setiap detik kehidupan gw- kenapa sampai hari ini masalah itu tidak kunjung pergi? Apakah semua usaha, pengharapan, dan doa gw nggak pernah sampe ke telinga Tuhan? Pertanyaan bodoh. Karena gw amat sangat yakin Tuhan Maha Tahu. Tapi, itulah yang bener-bener pengen gw tanya. Kenapa dan kenapa? Tujuh tahun buat orang lain bisa berarti banyak, dari seorang anak tk yang belom bisa baca menjadi seorang gadis kecil umur 12 tahun yang udah ngerti pacaran, HP, and so on. Tujuh tahun bisa juga berarti transformasi dari seseorang jadi seseorang yang lain. Tapi, seven years for me means nothing. Ya, di tujuh tahun itu gw belajar sangat banyak, gw tertawa, gw menangis, bersabar, dan menahan sangat banyak, tapi semua yang gw lakukan tidak mengubah apapun.

Dan kalo ada yang bilang Tuhan nggak adil, gw jadi mulai merasa pernyataan itu ada benernya. Gw emang nggak tau rahasia apa yang ada di balik keadaan gw yang tentunya berbeda sama keadaan orang lain, mengingat gw juga nggak punya kemampuan untuk menebak apa yang bakal terjadi nanti. Tapi untuk saat ini, bisa dibilang gw merasakan itu.

God, I’m tired.. And I’m fed up.

1993-1994 memories

Beberapa hari yang lalu, gw mendapatkan sebuah buku kecil, fotokopian, dan sangat sederhana, namanya Writer’s Playbook. Sebenernya buku itu ditujukan buat Maba 2008 yang lagi mengikuti sebuah workshop menulis di kampus, tapi karena gw tertarik, gw minta playbook itu ke salah satu mentor workshop. Di dalem playbook itu, ada beberapa ‘tugas’, salah satunya:

Prompt #1

Ceritakan pengalaman masa kecil terjauh yang bisa kamu ingat, tanpa menggunakan bantuan foto, video, dll.

Jadilah gw sibuk merecall apapun yang bisa gw inget pas gw kecil. Ternyata macem-macem, tapi yang terjauh berarti pas gw duduk di bangku tk. Ada beberapa hal yang bisa gw inget, but they are flying randomly on my head! Hmm, let the story begins 🙂

TK tempat gw sekolah adalah tk sederhana yang berada di komplek rumah gw. Yang jadi murid-muridnya kebanyakan emang yang tinggal di daerah situ juga.  Kami punya jadwal olahraga setiap hari Rabu dengan seragam olahraga warna hijau dan celana olahraga selutut. Nah, setiap hari Rabu, gw dan temen-temen gw yang lain siap berkumpul di lapangan tk buat olahraga. Yang mimpin olahraganya tentu saja Ibu Guru tercinta. Ada satu Bu Guru berbadan tambun yang selalu semangat tiap mimpin olahraga. How I really miss those times! Selain itu, tk gw selalu ngadain acara jalan-jalan tiap hari Sabtu. Jalan-jalannya tak lain dan tak bukan ya di lingkungan rumah gw juga, hehehe.. Ternyata anak tk tuh emang berisik ya, ga pernah bisa diem kalo lagi jalan-jalan. Kalo jalan-jalannya udah selesai, kami balik lagi ke tk terus makan bareng-bareng. Nggak jelas makan pagi ato siang, soalnya ritual itu dilakukan tiap jam 10 pagi. Setelah perut kenyang, biasanya gw ngantuk terus langsung tidur dan temen-temen gw sikat gigi.

What else? Oh iya, di tk tempat gw belajar sistem penilainnya pake cap gitu. Jadi, kalo tugas kami bagus dan yahud serta ciamik nan aduhay, kami bakal dapet cap gambar bintang, tapi kalo jelek dapetnya cap gambar senyum. Gw inget banget kalo pas gw dapet cap gambar senyum, rasanya gimana gitu, kaya pengen bilang: “Ah, harusnya aku bisa dapet bintang, aku harus berusaha!” (nggak gitu juga sih, pokoknya gw agak kecewa gitulah). Laluuuuu.. yang gw inget lagi adalah pas tk, gw pernah ngerayain ulangtun bareng-bareng. Jadi bangku-bangku di kelas diatur ngebentuk letter U biar temen-temen gw bisa ngeliat betapa bahagia dan sumringahnya sang empunya hajatan: GW. Terus di papan tulis kelas Bu Guru nulis “Selamat Ulang Tahun Rahadini Sekar H.” dengan huruf sambung jadul gaya emak-emak pake kapur warna-warni.

Nah, tibalah saatnya perpisahan. Perpisahan tk gw diadain di salah satu gedung di daerah Cibubur. Pas gw dateng sama bokap nyokap gw -yang tentunya bangga karena akhirnya anak mereka kerjaannya nggak melulu nyanyi sama tepuk tangan alias masuk SD-, gw disambut dengan permen-permen. Tapi, permen-permen itu ditempel di sebatang lidi yang dibungkus kertas krep warna merah. Oh iya ada yang lupa, di perpisahan itu gw ngisi 3 acara, yaitu pembacaan pidato (Bu Guru bilang yang boleh baca pidato cuma anak yang bacanya udah lancar aja, and I was the only one! Hahaha..), main drama, sama satu lagi gw lupa. Apa cuma ada 2 yah? Nggak tau lah, I’m clueless. Pas akhirnya pembacaan pidato, berdirilah gw dengan baju adat Betawi plus make up plus lipstik-lipstik dikit dengan rambut yang disanggul kaya None Jakarta. Pembacaan pidato pun berjalan lancar. Abis baca pidato, gw langsung ganti baju batik tk gw karena drama sebentar lagi dimulai. Tapi karena jeda antara gw baca pidato dan gw main drama lumayan deket, jadilah gw main drama pake baju batik tapi dengan make up yang masih nempel, lipstik yang belom diapus, sama rambut masih megar-megar mengembang layaknya singa. Aneh banget kalo dinget-inget, hehehe..

 

Jadi anak tk enak juga ya, ga perlu mikirin kuliah, tugas, duit, cowok, dan hal-hal ribet berbau duniawi lainnya. Kerjaannya cuma dateng, nyanyi-nyanyi, tepuk tangan, belajar ngitung dikit-dikit, terus pulang ke rumah pas masih siang. But after writing this story, I really thank God for giving me those wonderful childhood times 🙂

Taman yang paling indah, hanya taman kami

Taman yang paling indah, taman kanak-kanak…..

(I remember this song clearly, thank God it only takes two lines!)